Church of ISA ALMASIH History

1. Pendiri Gereja Isa Almasih Bapak Tan Hok Tjoan lahir di Langoan, Minahasa(Sulawesi Utara) pada tgl 2 Agustus 1909. Beliau dikenal sebagai orang yang self-made dan self-educated. Beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan bersekolah di Prins Hendrik School di Jakarta, kemudian melanjutkan pelajarannya pada sekolah Bea dan Cukai. Setelah lulus, beliau bertugas di Surabaya.   Pada th 1928, beliau menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya di Surabaya melalui pelayanan Pdt. Van Gessel, Gembala Sidang Pinkster Gemeente in Nedelandsche Indie. Sejak saat itulah, dimanapun Bapak Tan Hok Tjoan ditugaskan oleh pemerintah sebagai pegawai negeri, beliau senantiasa bersaksi tentang kasih Allah kepada orang lain.   Sejak di Makasar beliau mulai mendengar panggilan Allah untuk melayani Dia secara full time, namun beliau masih menunda penyerahan dirinya sepenuh kepada Allah dan hanya bersedia menjadi pelayan Tuhan part time saja. Ketika pecah Perang Dunia II, sementara beliau bertugas di Makasar, istri dan kedua anaknya masih berada di Surabaya, dan untuk beberapa lama mereka tidak dapat saling berjumpa.   Beliau berdoa agar dapat kembali berkumpul bersama keluarganya, serta berikrar bahwa sesudah itu beliau akan menyerahkan diri sepenuhnya menjadi hamba Tuhan.   Tuhan menjawab doanya, dan beliau pun kembali bekerja di Surabaya. Pada th. 1943, beliau dipindahkan oleh Pemerintah Jepang ke Semarang. Di kota ini beliau aktif melayani di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Jl. Peterongan, yang digembalakan oleh Alm. Bapak Pdt. W.F.H. Hornung dan Alm. Bapak Pdt. S.I.P. Lumoindong.
2. Sing Ling Kauw Hwee Pada th. 1945,
dalam kancah perjuangan merebut kemerdekaan yang akhirnya melahirkan Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, ada tantangan dan pertentangan yang mau tidak mau juga merasuk ke dalam kehidupan kegerejaan.   Kehidupan bergereja di tengah kancah revolusi ikut mengalami tantangan dan pertentangan yang bersifat internal.   Namun kita juga melihat di balik itu semua Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).   Di tengah kondisi di mana Bp. Pdt. Hornung dilarang melakukan kegiatan keagamaan, dan rasa tidak aman di hati banyak orang khususnya warga keturunan Tionghoa, maka lahirlah persekutuan doa yang diselenggarakan di rumah Bp. Tan Hok Tjoan di jalan Brumbungan 6, Semarang.   Persekutuan Doa tersebut dikenal sebagai Persekutuan Doa Brumbungan. Tuhan memberkati Persekutuan Doa ini sehingga dapat bertumbuh dengan pesat dan bentuk ibadah lengkap pun mulai diselenggarakan. Selanjutnya kemajuan dan perkembangan ini dibawa ke persidangan kekristenan di kalangan gereja Pentakosta, dimana tokoh pimpinan Bapak Pdt. Van Gessel melantik pelayan-pelayan Tuhan agar dapat memajukan persekutuan yang dilayani dengan api pentakosta yang saat itu telah tersebar di seluruh Indonesia.   Di antara pelayan-pelayan Tuhan yang dilantik tersebut, terdapat Bapak Tan Hok Tjoan. Persekutuan Doa yang dilayani Bp. Tan Hok Tjoan ini kemudian diberi nama Sing Ling Kauw Hwee (Sidang Roh Kudus). Dari nama ini kita dapat mengetahui dua corak utama persekutuan ini.
Pertama, persekutuan ini bercorak Pentakosta, yang menekankan pengajarannya kepada pekerjaan dan kuasa Roh Kudus.
Kedua, persekutuan tersebut saat itu berlatar belakang etnis Tionghoa. Jemaat yang menghadirinya pada waktu itu kebanyakan orang Tionghoa peranakan yang sudah berakulturasi dengan kebudayaan setempat dan kebudayaan Barat. Sekalipun demikian, ibadah dengan bahasa Tionghoa tidak pernah diselenggarakan di GIA. Yang pernah diadakan adalah kebaktian berbahasa Belanda (1947-1954).
3. Dari Sing Ling Kauw Hwee menjadi   Gereja Isa Almasih.   Keberadaan sebuah Gereja baru mempunya makna jika memiliki Majelis yang dilantik oleh Tuhan di depan jemaat-Nya. Oleh karena Majelis I Sing Ling Kauw Hwee dipilih oleh jemaat pada tanggal 18 Juli 1946 dan dilantik pada tanggal 21 Juli 1946,   maka tanggal kelahiran Sing Ling Kauw Hwee adalah 21 Juli 1946.  Pada tanggal 17 Juli 1955 dalam Konferensi II di malang, nama Sing Ling Kauw Hwee diganti menjadi Gereja Isa Almasih dengan dua alasan yang sangat mendasar.   Pertama, saat itu Alkitab yang digunakan adalah Alkitab Bahasa Indonesia Melayu Kuno, dimana nama Isa Almasih digunakan, dan nama ini juga sudah dikenal dan dipakai luas di luar Pulau Jawa, misalnya di Sulawesi Utara.   Kedua, penggunaan nama ini menyangkut visi dan misi melalui pergumulan doa bahwa gereja yang berada di Tanah Air perlu terus bekontekstualisasi dalam memenangkan jiwa dari bangsa Indonesia sendiri, dan istilah Isa Almasih telah dikenal luas di kalangan masyarakat pada umumnya.